IT WAS NEVER “JUST A JOKE”
The Invisible Wounds of Childhood Bullying That Can Follow Us Into Adulthood
By Uswatun Khasanah, SE, CHt.
Sometimes, what others call a joke becomes a wound that a child carries for years.
Ketika Candaan Meninggalkan Luka
“Ah, itu cuma bercanda.”
“Jangan terlalu sensitif.”
“Namanya juga anak-anak.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang anak yang mengalami perundungan, kata-kata tersebut justru dapat membuatnya merasa bahwa rasa sakit yang dialaminya tidak penting.
Bullying atau perundungan bukan sekadar candaan yang berlebihan. Ketika seseorang berulang kali mengalami penghinaan, pengucilan, intimidasi, atau perlakuan menyakitkan, terutama dalam situasi ketika terdapat ketimpangan kekuatan, pengalaman tersebut dapat meninggalkan dampak emosional yang tidak selalu terlihat.
Luka akibat bullying tidak selalu tampak secara fisik. Terkadang, luka itu hadir dalam bentuk rasa malu, ketakutan, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan mempercayai orang lain.
Dan bagi sebagian orang, pengalaman tersebut dapat terus memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri ketika beranjak dewasa.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
Bayangkan seorang anak yang setiap hari berangkat sekolah dengan perasaan cemas. Ia khawatir akan kembali diejek, dipermalukan, dijadikan bahan tertawaan, atau dijauhi oleh teman-temannya.
Awalnya, mungkin ia memilih diam. Ia mencoba mengabaikan perlakuan tersebut karena tidak ingin dianggap lemah atau memperbesar masalah.
Namun, ketika pengalaman itu terus berulang, ia mungkin mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Apakah ada yang salah dengan diriku?”
“Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?”
“Apakah aku memang tidak cukup baik untuk diterima?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat perlahan memengaruhi cara seorang anak membangun harga diri dan memahami hubungan sosial.
Pada sebagian individu, pengalaman perundungan di masa kecil dapat berkaitan dengan rasa tidak aman, rendahnya kepercayaan diri, kecemasan dalam situasi sosial, atau kesulitan membangun relasi yang sehat ketika dewasa.
Dalam beberapa kasus, pengalaman masa lalu juga dapat kembali terasa ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut.
Penelitian longitudinal oleh Takizawa, Maughan, dan Arseneault (2014) menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman bullying pada masa kanak-kanak dengan sejumlah masalah kesehatan dan kesejahteraan psikologis pada usia dewasa.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua korban bullying akan mengalami dampak yang sama. Pengalaman setiap individu berbeda, demikian pula faktor lingkungan, dukungan sosial, dan kemampuan pemulihannya.
Mengapa Korban Sering Memilih Diam?
Tidak semua korban perundungan mampu menceritakan pengalaman yang dialaminya.
Ada yang takut tidak dipercaya. Ada yang khawatir akan semakin dirundung jika melapor. Ada pula yang merasa malu, menyalahkan diri sendiri, atau menganggap bahwa pengalaman tersebut harus dilupakan begitu saja.
Pada anak-anak, kesulitan mengungkapkan pengalaman juga dapat muncul karena mereka belum memiliki kemampuan untuk memahami dan menjelaskan emosi yang sedang dirasakan.
Karena itu, perubahan perilaku terkadang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan orang-orang terdekat.
Misalnya:
- Anak yang sebelumnya ceria menjadi lebih pendiam.
- Mulai enggan pergi ke sekolah atau mengikuti kegiatan bersama teman.
- Menunjukkan kecemasan atau ketakutan yang tidak biasa.
- Menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau menarik diri.
- Mengalami penurunan kepercayaan diri.
- Mengeluhkan gangguan tidur atau keluhan fisik yang berulang.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak mengalami bullying. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus patut diperhatikan dan dibicarakan dengan penuh empati.
Proses Pulih Dimulai dari Rasa Aman
Pengalaman menyakitkan di masa lalu tidak harus menjadi penentu seluruh masa depan seseorang.
Pemulihan dapat dimulai ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memahami pengalamannya, mengenali perasaannya, dan membangun kembali rasa aman dalam dirinya.
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
1. Mengakui bahwa pengalaman tersebut memang menyakitkan
Tidak perlu mengecilkan atau membandingkan penderitaan dengan pengalaman orang lain. Perasaan sedih, marah, takut, atau kecewa layak didengarkan.
2. Berhenti menyalahkan diri sendiri
Korban tidak bertanggung jawab atas tindakan perundungan yang dilakukan orang lain. Setiap anak berhak diperlakukan dengan hormat dan aman.
3. Membangun kembali kepercayaan diri
Belajar mengenali kekuatan diri, menghargai pencapaian kecil, dan mengembangkan keyakinan bahwa pengalaman buruk tidak menentukan nilai diri seseorang.
4. Menciptakan lingkungan yang suportif
Kehadiran keluarga, sahabat, guru, dan lingkungan yang tidak menghakimi dapat membantu seseorang merasa diterima dan tidak sendirian.
5. Mencari bantuan yang tepat
Ketika pengalaman masa lalu masih mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah penting dalam proses pemulihan.
Peran Orang Tua: Hadir, Mendengarkan, dan Melindungi
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak untuk bercerita, termasuk tentang pengalaman yang membuatnya takut atau terluka.
Orang tua tidak harus selalu memiliki jawaban atas setiap masalah. Namun, kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan dapat memberikan pengaruh yang sangat berarti.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan orang tua:
- Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak tanpa terburu-buru.
- Dengarkan ceritanya tanpa menyalahkan atau meremehkan perasaannya.
- Hindari respons seperti “Kamu harus lebih kuat” atau “Jangan terlalu dipikirkan”.
- Perhatikan perubahan perilaku, suasana hati, dan hubungan sosial anak.
- Bangun komunikasi dengan pihak sekolah jika terdapat indikasi perundungan.
- Ajarkan anak bahwa meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan.
Anak perlu mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi situasi sulit seorang diri.
Menciptakan keluarga yang aman secara emosional merupakan salah satu bentuk perlindungan penting bagi tumbuh kembang anak.
Jangan Ragu Menerima Uluran Tangan Bantuan
Terkadang, seseorang membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita dan memahami apa yang sedang dialaminya.
Pendampingan melalui terapi, konseling atau coaching dapat menjadi salah satu bentuk dukungan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kondisi individu.
Meminta bantuan bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi hidup. Justru, itu merupakan bentuk keberanian untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri agar dapat bertumbuh dan pulih.
A Message for Those Who Have Been Hurt
Jika Anda pernah mengalami perundungan, baik ketika masih anak-anak maupun saat dewasa, ada satu hal yang penting untuk diingat:
Apa yang pernah dilakukan orang lain kepada Anda tidak menentukan siapa diri Anda hari ini.
Anda tidak harus terus-menerus hidup dalam bayang-bayang pengalaman yang menyakitkan. Anda berhak merasa aman, dihargai, diterima, dan memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain.
Proses pemulihan setiap orang berbeda. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu membandingkan perjalanan Anda dengan orang lain, dan tidak perlu merasa bersalah karena membutuhkan bantuan.
Mulailah dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk didengarkan.
A Kinder World Begins With Us
Perundungan bukan persoalan sepele yang cukup diselesaikan dengan meminta anak untuk mengabaikannya.
Dibutuhkan kepedulian keluarga, sekolah, masyarakat, serta lingkungan sosial untuk menciptakan ruang yang aman bagi setiap anak.
Sebab, sebuah candaan mungkin hanya berlangsung beberapa detik bagi orang yang mengucapkannya, tetapi dampaknya bisa jauh lebih lama bagi orang yang menerimanya.
Mari lebih berhati-hati dengan kata-kata, lebih peka terhadap perasaan orang lain, dan lebih berani memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.
Be there. Listen. Understand. Support.
Karena terkadang, hal pertama yang dibutuhkan seseorang untuk mulai pulih bukanlah nasihat panjang, melainkan kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
REFERENSI
- Takizawa, R., Maughan, B., & Arseneault, L. (2014). Adult health outcomes of childhood bullying victimization: Evidence from a five-decade longitudinal British birth cohort. American Journal of Psychiatry, 171(7), 777–784. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2014.13101401
- Lereya, S. T., Copeland, W. E., Costello, E. J., & Wolke, D. (2015). Adult mental health consequences of peer bullying and maltreatment in childhood: Two cohorts in two countries. The Lancet Psychiatry, 2(6), 524–531. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(15)00165-0
- World Health Organization. (2026). Violence against children. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-children
- UNESCO. (2020). What you need to know about school violence and bullying. https://www.unesco.org/en/articles/what-you-need-know-about-school-violence-and-bullying
- Hullinger, A., & DiGirolamo, J. (2018). Referring a client to therapy: A set of guidelines. International Coaching Federation.
Kalau kamu butuh teman ngobrol atau panduan lebih lanjut soal topik ini, kamu bisa coba konsultasi online di Soluusi bareng konsultan profesional — privat, fleksibel, dan bisa dari mana saja.
Baca Juga
Komentar 0
Ingin berkomentar?
Masuk dengan akun Soluusi Anda untuk memberikan komentar
Masuk untuk KomentarBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!